Garut, garut-tourism.com,- Situ Dan Candi Cangkuang Terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Cagar budaya Candi Cangkuang berasal dari nama sebuah desa yaitu Desa Cangkuang. Adapun nama Desa Cangkuang berasal dari nama sebuah pohon yang bernama Pohon Cangkuang (Pandanus Furcatus) yang banyak terdapat di sekitar Makam Embah Dalem Arif Muhammad. Konon menurut cerita masyarakat setempat, Embah Dalem Arif Rachmad dan teman-temannyalah yang membendung daerah ini sehingga terbentuklah sebuah danau yang dinamakan Situ Cangkuang.Embah Dalem Arif Muhammad berasal dari Kerajaan Mataram, Jawa Timur. Beliau datang bersama rombongannya untuk menyerang VOC di Batavia dan menyebarkan agama Islam, salah satunya adalah Desa Cangkuang yang saaat itu penduduknya telah menganut agama Hindu. Di desa tersebut terdapat sebuah Candi Hindu peninggalan abad ke XVII selain itu juga terdapat perkampungan adat yang dinamakan kampung Pulo yang masih memegang teguh adat istiadat karuhunnya.. Meskipun penduduk di desa tersebut telah menganut agama Islam, mereka masih menjalankan sebagian ajaran agama Hindu.
Candi cangkuang terdapat 10 Km sebelah utara tarogong arah menuju ke Bandung, tepatnya di daerah Leles. Untuk menuju ketempat obyek wisata ini dari Kec.Leles, baisanya para wisatawan menggunakan kendaraan delman (andong) kalau dari arah bandung tepat sebelum alun-alun leles belok kiri dari situ jaraknya sekitar 2 km. Yang unik dari objek wisata ini Situnya yang dangkal ditutupi oleh bunga teratai yang indah. Ada sebuah pulau kecil di tengah-tenga situ tersebut dan dipulau tersebut terdapat sebuah Candi cangkuang. Candi tersebut hanya salah satu kuil Hindu yang pernah ditemukan di Jawa Barat, merupakan penemuan penting pada zaman yang lampau,selain itu di tempat sekitar candi ada sebuah musium yang menyimpan peninggalan-peninggalan pada masa itu.Candi Cangkuang telah dibangun pada zaman kerajaan Sunda pertama yaitu Kerajaan Galuh. Di dekat candi ada makam peninggalan penganuat agama Islam, yitu Arief Muhammad. Dia salah seorang tentara kerajaan Mataram dari Jawa Tengah yang pergi menyerang belanda di Batavia pada abad ke 17. penyerangannya gagal, dia tidak kembali, tetapi menetap di Cangkuang mengajar dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitarnya, tepatnya di kampng Pulo dimana keturunanya menetap sampai saat ini.
Di Kampung Pulo terdapat kampung adat yang terdiri dari 6 buah rumah yang berjejer dn berhadap-hadapan, masing-masing 3 buah di sebelah kiri dan 3 disebelah kanan, ditambah dengan 1 buah mesjid. Kedua deretan tersebut tidak boleh ditambah dan dikurangi, yang berdiam disana hanya 6 keluarga. Dipinggir situ/danau untuk menyebrang ke Candi Cangkuang menggunakan angkutan tradisional yang terbuat dari bambu, tapi aman dan nyaman yang disebut rakit.
Keterangan :
| Kecamatan | : | Leles |
| Jenis Wisata | : | Budaya dan Alam |
| Daya Tarik | : | Candi, Kampung adat dan Danau |
| Jarak Tempuh | : | 48 Km dar Kota Bandung |
0 komentar: