Garut. garut-tourism.com,- Kesenian Surak ibra adalah salah satu kesenian khas garut yang cukup unik dan meriah karena dalam pementasannya surak ibra di bawakan dengan semarak,gembira dan kolosal.
Kesenian surak ibra ini ada dua versi yang berbeda tetapi hampir mirip. Menurut Versi pertama, Kesenian surak ibra diciptakan oleh Pak Ibra yaitu seorang pendekar silat yang di segani yang berasal dari desa kertajaya kec.Cibatu Kab.Garut. Surak Ibra awalnya merupakan gabungan kesenian badeng, ngadu lisung, dan seni tepuk tangan. Tapi kemudian hanya seni tepuk tangan saja yang dikembangkan, karena ngadu lisung dan badeng sudah tidak dianggap, aneh lagi.
Kesenian surak ibra versi pertama ini telah diturunkan ke tiga generasi. Pertama diturunkan kepada Witarma lalu selanjutnya menurunkannya kembali kepada Entas. Ketika kepemimpinan kesenian surak ibra ini diturunkan kepada Entas, dari sini mulailah kesenian surak ibra versi ci batu mulai di kenal secara luas dan tidak hanya di kampung itu saja. Keunikan surak ibra versi cibatu ialah dalam pementasannya mengandung unsur magic karena pemainnya mengalami kerasukan. Sebelum memulai pertunjukan dalam kesenian surak ibra versi cibatu ini harus di awali dengan melakukan sesaji yang harus di persiapkan satu hari sebelum pertunjukan dan sesajinya itu tidak boleh di letakkan sembarangan tetapi harus dengan alas yang sudah di beri mantra sebelumnya.
Kesenian ini melibatkan banyak orang, bahkan harus terdiri dari beberapa kelompok karena dalam pementasannya akan ada banyak pemain yang mengalami kerasukan. Setiap pemain yang mengalami kerasukan harus di jaga beberapa orang agar tidak melukai dirinya sendiri. Iringan musik juga dihadirkan dalam kesenian ini untuk turut menyemarakan pertunjukan. Iringan musik ini biasanya berada di formasi belakang yang terus mengiringi sepanjang pertunjukan, atraksi serupa dilakukan kembali pada titik-titik tertentu sepanjang perjalanan Helaran.Musik pengiring Surak Ibra yang secara umum, sama dengan pengiring Kendang Pencak, hanya ditambah angklung dan dogdog sebagai pelengkap. Lagu-lagu pencak silat sering dipakai, seperti: Golempang, Padungdung, dll.
Sementara dalam surak ibra versi kedua, unsur-unsur magisnya tidak nampak. Menurut versi ini, kesenian surak ibra – atau disebut juga seni boboyongan – diciptakan pada tahun 1910 di Kampung Sindangsari, Desa Cinunuk, Wanaraja. Penciptanya adalah Raden Djajadiwangsa, putra Raden Wangsa Muhammad yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Papak.
Sampai sekarang, kesenian ini sudah diturunkan kepada empat generasi. Menurut sejarahnya, konon kesenian ini muncul sebagai sindiran terhadap penjajah Belanda yang sewenang-wenang. Surak ibra lahir karena ingin menunjukan sipat gotong royong dan mandiri. Dari pertujukannya, versi ini lebih menonjolkan unsur hiburan ketimbang unsur magis seperti yang diperlihatkan oleh surak ibra versi pertama.
Namun, kedua versi surak ibra sama-sama kolosal. Pementasannya melibatkan puluhan orang bahkan sampai mencapai 100 pemain. Alat musik yang digunakannya antara lain kendang penca, dogdog, angklung, keprak, kentongan bambu. Dalam versi kedua, pementasannya juga menggunakan dua buah obor.
Sampai sekarang, kesenian ini sudah diturunkan kepada empat generasi. Menurut sejarahnya, konon kesenian ini muncul sebagai sindiran terhadap penjajah Belanda yang sewenang-wenang. Surak ibra lahir karena ingin menunjukan sipat gotong royong dan mandiri. Dari pertujukannya, versi ini lebih menonjolkan unsur hiburan ketimbang unsur magis seperti yang diperlihatkan oleh surak ibra versi pertama.
Namun, kedua versi surak ibra sama-sama kolosal. Pementasannya melibatkan puluhan orang bahkan sampai mencapai 100 pemain. Alat musik yang digunakannya antara lain kendang penca, dogdog, angklung, keprak, kentongan bambu. Dalam versi kedua, pementasannya juga menggunakan dua buah obor.

0 komentar: